Strategi SEO sekarang makin penting karena biaya iklan makin mahal, persaingan makin berat, dan mesin pencari mulai berubah menjadi “answer engine” yang langsung memberi jawaban ke pengguna.
Kalau kamu menjalankan bisnis di Indonesia, kemungkinan besar sudah coba berbagai channel: iklan berbayar, media sosial, sampai kerja sama dengan kreator. Tapi tanpa fondasi SEO yang benar, kamu mudah terjebak di siklus yang sama: kompetitor menang, budget habis, tim lelah, dan target tidak tercapai. Untuk memperjelas arah dan belajar menghubungkan SEO dengan AI, konten, dan marketing, kamu bisa menggunakan rheinmahatma.com sebagai tempat belajar. Di sana ada banyak pembahasan praktis tentang AI, digital marketing, dan bisnis yang membahas dari sisi strategi sampai eksekusi, dengan contoh kasus yang relevan untuk pasar lokal dan bahasa yang mudah kamu cerna. Pendekatannya banyak menekankan pemahaman konsep, cara berpikir, dan langkah yang bisa kamu pakai langsung di brand atau klienmu.
Artikel ini merangkum sepuluh kesalahan SEO yang sering terjadi di berbagai perusahaan, berdasarkan contoh nyata dan materi presentasi yang fokus ke praktik lapangan. Setiap bagian menjelaskan apa masalahnya, dampaknya ke bisnis, dan apa yang bisa kamu lakukan supaya tidak mengulang pola yang sama.
1. Ekspektasi Tidak Jelas Sejak Awal
Banyak kampanye SEO gagal bukan karena tekniknya salah, tapi karena tidak ada kesepakatan tujuan di awal. Tim marketing, owner, dan orang SEO sering punya bayangan berbeda: ada yang fokus ranking kata kunci, ada yang mengejar leads, ada yang memikirkan branding, tapi tidak pernah duduk bersama mendefinisikan “menang itu seperti apa”.
Akibatnya, setiap meeting terasa seperti “muter‑muter di tempat”. Target berubah‑ubah, prioritas bergeser tiap bulan, dan semua pihak merasa tidak puas. Dalam situasi ini yang terjadi adalah:
- Kompetitor bergerak lebih cepat dan mengambil pangsa pasar.
- Budget dan waktu terbuang di aktivitas yang tidak jelas hubungannya dengan tujuan.
- Tim kesal, manajemen kesal, stakeholder merasa disesatkan, dan target tahunan meleset.
Cara memperbaikinya adalah menyamakan “why” sebelum bicara “how”. Tanyakan dengan jujur: kamu ingin SEO membantu apa? Meningkatkan omzet, mendapatkan pelanggan baru, membangun channel baru, mengembangkan niche tertentu, atau memamerkan keahlian tim. Setelah itu, turunkan ke KPI yang bisa diukur, misalnya: pertumbuhan trafik organik, jumlah lead, atau kontribusi revenue dari channel organik.
2. Pendekatan Marketing Tidak Holistik
Kesalahan berikutnya adalah memandang SEO dan channel lain sebagai dunia terpisah. Banyak bisnis masih berpikir dengan pola lama: cukup TV, radio, atau satu dua channel digital utama. Padahal sekarang pelanggan bisa menemukanmu lewat banyak jalur sekaligus: mesin pencari, Instagram, TikTok, email, podcast, bahkan event offline.
Kalau kamu hanya mengandalkan satu kanal, kamu menaruh semua telur di satu keranjang. Risiko jangka panjangnya besar:
- Kamu kehilangan peluang di channel yang sedang tumbuh.
- Jika performa satu channel turun, keseluruhan bisnis ikut terguncang.
- Kompetitor membangun “ekuitas online” di beberapa kanal sementara kamu tertinggal di satu jalur saja.
Untuk keluar dari jebakan ini, susun peta channel yang mungkin relevan dengan bisnismu: SEO, email marketing, media sosial (Instagram, TikTok, Meta, LinkedIn), PR digital, experiential marketing, iklan berbayar, podcast, sampai event dan networking. Kamu tidak harus menggarap semuanya sekaligus, tetapi penting untuk punya visi jangka panjang bagaimana channel tersebut saling menguatkan.
3. Terlalu Bergantung pada Iklan Berbayar
Banyak bisnis yang merasa nyaman dengan iklan berbayar karena hasilnya cepat terlihat. Masalah muncul ketika hampir semua pertumbuhan bergantung pada PPC. Lama‑kelamaan biaya per klik naik, kompetisi makin padat, dan kamu membayar lebih mahal untuk trafik yang sama.
Pola yang sering terjadi seperti ini:
- Pengeluaran PPC besar, sementara SEO nyaris tidak disentuh.
- Biaya iklan naik, margin tertekan, tapi tidak ada channel lain yang siap mendukung.
- Baru setelah panik, bisnis buru‑buru ingin memulai SEO, biasanya sudah terlambat untuk mengejar momentum.
Contoh ekstremnya adalah sebuah brand fashion online yang menghabiskan puluhan ribu per bulan untuk PPC tanpa investasi SEO. Saat biaya iklan naik dan trafik berkurang, mereka baru ingin membangun SEO dari nol. Di titik itu, kompetitor sudah jauh di depan, dan bisnis akhirnya tidak bisa bertahan. Solusinya adalah memakai PPC dan SEO sebagai pasangan: PPC untuk hasil jangka pendek, SEO untuk fondasi jangka panjang. Ketika halamanmu sudah masuk tiga besar organik untuk keyword tertentu, kamu bisa mengurangi atau memindahkan budget iklan ke kata kunci lain yang belum kuat secara organik.
4. Salah Mengelola Sumber Daya dan Operasional Marketing
Kesalahan umum lain adalah senang membuat audit, riset, dan dokumen panjang, tapi lemah di eksekusi. Kadang manajemen memilih memesan audit mahal yang kemudian hanya disimpan di Google Drive tanpa ditindaklanjuti, sementara masalah teknis, konten, dan link building tidak pernah benar‑benar dikerjakan.
Ini sering terjadi karena tidak ada keputusan jelas: apakah mau mengandalkan in‑house, agency, konsultan, atau kombinasi. Di sisi lain, tim finance mengendalikan budget tanpa cukup memahami pentingnya implementasi. Akibatnya banyak hal “terlihat sibuk” di atas kertas, tapi tidak ada perubahan nyata di website.
Untuk menghindari ini, kamu perlu bertanya di setiap rencana pekerjaan:
- Apa prioritas tertingginya, dan bagaimana dampaknya ke tujuan bisnis.
- Deliverable konkret apa yang akan selesai dalam satu periode (bulan atau kuartal).
- Siapa yang bertanggung jawab mengeksekusi, bukan hanya menganalisis.
Audit tetap penting, tapi fungsinya sebagai peta jalan, bukan akhir dari pekerjaan. Yang memberi hasil adalah konten yang ditulis, halaman yang dioptimalkan, link yang dibangun, dan perbaikan teknis yang benar‑benar diterapkan.
5. Mengabaikan Fondasi Teknis dan Struktur Situs
Beberapa pemilik bisnis merasa websitenya sudah bagus karena tampilannya menarik. Mereka yakin tidak perlu technical SEO, padahal tanpa struktur teknis yang sehat, mesin pencari akan kesulitan mengindeks konten. Analogi sederhananya: kamu punya showroom mewah, tapi jalan menuju showroom rusak dan tidak ada petunjuk arah.
Masalah teknis yang sering ditemukan antara lain:
- Internal dan external link yang rusak.
- Kecepatan website lambat, terutama untuk e‑commerce.
- Struktur heading dan metadata kacau.
- Sitemap dan struktur navigasi membingungkan.
Selain itu, banyak situs B2B tidak serius menggarap halaman layanan dan halaman keahlian. Halaman tersebut sering tipis, tidak menjelaskan dengan jelas siapa yang dilayani, masalah apa yang dipecahkan, dan bukti apa yang mendukung. Di e‑commerce, kesalahan lain adalah hanya punya satu halaman kategori besar seperti “Dresses” tanpa koleksi spesifik seperti “maxi dress”, “midi dress floral”, dan seterusnya. Padahal koleksi niche inilah yang cocok untuk menangkap keyword lebih panjang dan intent yang lebih jelas.
6. Tidak Merencanakan Migrasi Website dengan Benar
Migration tanpa perencanaan adalah salah satu biang kerok hilangnya trafik organik secara drastis. Pemicunya bisa bermacam‑macam: ganti domain, pindah ke platform baru seperti Shopify, redesign besar‑besaran, atau rebranding logo dan struktur.
Tanpa mapping yang rapi, hal‑hal ini mudah terjadi:
- URL lama yang sudah punya ranking dan backlink tidak diarahkan ke URL baru.
- Struktur konten berubah tanpa mempertimbangkan keyword dan internal link.
- Halaman penting tidak lagi bisa diindeks dengan benar.
Hasilnya, grafik trafik berubah seperti tebing: turun tajam dan sulit kembali. Karena website adalah channel utama penjualan, dampaknya langsung terasa di P&L. Sebelum pindah platform atau domain, penting untuk melibatkan orang yang paham SEO, membuat floor plan URL, menyiapkan redirect, dan mengecek kembali setelah live.
7. Konten Dangkal dan Tidak Terstruktur
Konten yang tipis, tidak rapi, dan tidak menjawab kebutuhan pengguna adalah kesalahan klasik lain. Banyak blog perusahaan hanya berisi beberapa paragraf pendek tanpa heading yang jelas, tanpa contoh, dan tanpa ajakan bertindak. Dari sudut pandang mesin pencari maupun manusia, konten seperti ini tidak menarik.
Bandingkan dengan konten yang disusun sebagai sebuah “istana” informasi: heading jelas, subtopik lengkap, ada contoh, tabel, gambar, internal link, dan penjelasan yang mengalir. Konten seperti ini membuat orang betah membaca dan memberi sinyal kuat ke mesin pencari bahwa halaman tersebut layak ditempatkan tinggi.
Cara menyusun konten yang kuat
Sebelum menulis, tanyakan beberapa hal dasar:
- Apa tujuan bisnis dari konten ini.
- Bagaimana pelanggan biasanya menemukanmu dan di tahap funnel mana mereka berada.
- Pertanyaan apa yang paling sering mereka ajukan seputar topik ini.
Gunakan data dari Google Search Console, internal site search, tools riset keyword, dan wawancara langsung dengan pelanggan. Susun heading dari pertanyaan‑pertanyaan tersebut, masukkan tone of voice brand (bukan gaya generik AI), dan pastikan ada internal link serta call to action yang relevan. Setelah publikasi, pantau performansinya dan iterasi jika perlu.
8. Mengabaikan Ragam Format Konten
SEO modern tidak hanya soal artikel blog. Ada banyak mode konten yang bisa memperkuat visibilitas dan otoritasmu jika diatur dengan benar. Beberapa di antaranya:
- Blog. Bisa berupa artikel pendek, panjang, opini, atau thought leadership.
- Guides. How‑to, buying guide, styling guide, inspiration, e‑book, whitepaper.
- FAQ. Pertanyaan yang sering diajukan tentang brand, produk, layanan, tim, atau proses.
- Case study dan testimoni. Termasuk press release dan konten UGC (user generated content).
Setiap format punya fungsi berbeda di funnel dan bisa menargetkan set kata kunci yang berbeda juga. Misalnya, FAQ bagus untuk long‑tail query yang sangat spesifik, sedangkan case study menggabungkan SEO dengan social proof. Dengan memadukan beberapa mode, kamu tidak hanya mengejar trafik, tapi juga membangun kepercayaan dan mendorong konversi.
9. Melupakan Otoritas Brand dan E‑E‑A‑T
Dalam lautan konten yang makin banyak dibuat dengan bantuan AI, mesin pencari perlu cara untuk memilah mana sumber yang layak dipercaya. Di sinilah konsep E‑E‑A‑T (experience, expertise, authority, trustworthiness) dan kekuatan brand menjadi sangat penting. Secara sederhana, dua pertanyaan besar yang perlu dijawab adalah: bagaimana Google bisa percaya pada kontenmu, dan bagaimana orang bisa percaya pada brand‑mu.
Brand yang kuat bisa menjual kaos sederhana dengan harga jauh lebih tinggi daripada kaos tanpa nama, hanya karena dianggap lebih kredibel. Di dunia SEO, hal ini diterjemahkan ke beberapa hal:
- Halaman profil tim dan perusahaan yang jelas dan manusiawi.
- Konten yang ditulis atau setidaknya ditinjau oleh orang yang memiliki pengalaman nyata di bidangnya.
- Digital PR dan link building dari situs lain yang juga punya reputasi baik.
- Author bio, ulasan pengguna, dan bukti sosial lain yang menunjukkan brand benar‑benar eksis.
Di sisi lain, Answer Engine Optimization (AEO) mulai muncul sebagai istilah untuk upaya muncul di jawaban langsung AI. Jika dilihat lebih dekat, banyak elemennya tumpang tindih dengan SEO: crawlability, kedalaman topik, schema, terminologi yang jelas, dan E‑E‑A‑T. AEO menambahkan lapisan seperti brand citations, jawaban singkat (atomic answers), kemudahan mengekstrak informasi, serta reputasi di luar situs. Intinya, bukan berarti kamu harus membuat disiplin baru yang benar‑benar terpisah, tapi lebih memprioritaskan jenis tugas yang mendukung keduanya.
10. Terlalu Fokus pada “Shiny Object” AI dan Melupakan Fondasi
Kesalahan terakhir adalah terlalu tergoda oleh tren baru seperti AI, GEO, AEO, dan berbagai istilah lain, sampai lupa bahwa fondasi SEO belum rapi. Banyak yang menaruh seluruh energi di eksperimen AI, tetapi website masih sulit di‑crawl, konten minim, dan otoritas belum terbentuk.
Mesin pencari berbasis AI dan answer engine memang akan terus berkembang, tetapi di banyak kasus saat ini, yang paling berpengaruh tetap hal‑hal dasar: struktur teknis yang sehat, konten yang bermanfaat, internal link yang baik, dan reputasi brand yang kuat. AI bisa membantumu bekerja lebih cepat, namun tidak bisa menggantikan kebutuhan untuk memahami pelanggan, menyusun strategi, dan mengeksekusi perbaikan nyata di website.
Menutup: Fokus ke Fondasi, Lalu Skala
Sepuluh kesalahan di atas sering muncul bersamaan: ekspektasi tidak jelas, hanya mengandalkan iklan, SEO dikerjakan separuh hati, migrasi tanpa rencana, konten tipis, dan brand yang kurang dipercaya. Kabar baiknya, semua bisa diperbaiki jika kamu mulai dari fondasi: jelas tujuan bisnis, pilih prioritas yang berdampak, dan kerjakan daftar perbaikan teknis serta konten secara konsisten. Setelah fondasi kuat, barulah AI, answer engine, dan channel baru akan benar‑benar terasa manfaatnya, bukan sekadar tren sesaat. Jika kamu ingin mendalami tiap aspek ini lebih jauh, dari sudut pandang praktisi yang terbiasa menjembatani teori dan realita bisnis, kamu bisa memanfaatkan rheinmahatma.com sebagai sumber belajar. Di sana kamu akan menemukan panduan, contoh kasus, dan pemikiran strategis tentang AI, digital marketing, dan bisnis yang bisa membantumu mengubah SEO dari sekadar “tugas teknis” menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang.