Ceritanya kemarin sabtu rame-rame bareng tmn2 dari The Consumer Lab bahas viral viralan. Ada sekitar 50an marketer brand & corporate berbagai level di ruangan ini Jika Anda tertarik bergabung bisa kunjungi link ini, namun untuk saat ini mereka masih agak membatasi untuk bergabung, karena sedang proses evaluasi, bisa cepat, bisa lama, tapi isi aja dulu. Next event TCL di Sabtu 13 Desember dan akan membahas next trend 2026, di sisi saya akan banyak bahas tentang :
- AI SEO / LLM Optimization di mana saat ini Perplexity sudah bisa mengeksekusi “agentic commerce” (belanja dengan bantuan AI).
- Masa depan knowldge worker sebagai Agent Manager
Ini adalah bbrp hal random yang dibahas di event TCL tentang “viral” yan isinya campuran antara opini saya dan opini yang muncul dalam diskusi
Studi Kasus Viral di Indonesia
Om Om Primajasa
(+) om om jadi cult – seperti satpam BCA ?
(+) CTA jelas di akhir + harga
(+) top of mind – walau hanya Tanjung Priok
Soundnya Pesona Indonesia
(- ??) Akhirnya di banyak video tidak jelas, itu tempat apa, kesananya gimana- tapi mungkin memang fokusnya hanya branding – tidak perlu CTA (promosi negara duitnya tidak berseri?)
Pagi Sore
Mboti Pride Chicken
(-??) banyak video yang kurang ada penekanan produknya apa, tapi still, videonya begitu banyak rasanya tidak harus semuanya ada produk
Dokumen Social Listening dari Studi Kasus di atas
Primajasa Complete Social Listening Download PDF
Pride Chicken Complete Social Listening Download PDF
Pride Chicken Dashboard Overview
Pride Chicken Mention / Sources

Bos MInta Viral = PR
Viral adalah PR utk brand manager, karena biasanya ceo/founder kadang punya karakter fomo.
Viral memang lebih mudah dimengerti oleh C level daripada “saat calon customer mencari di google, apakah produk kita ditemukan?”
Saya sendiri biasanya kalau mau viral viralan, harus pakai budget ads, itu pun di tiktok
Pakai ads Tiktok, resultnya Rp, 1-4 per views, masih mending sih daripada ada agency yang ngecharge Rp.10/view.
tapi kalau pakai ads, kalau kata agency sih akunnya udah “rusak” organicnya, maksudnya reach organicnya sudah tidak sebagus jika dibandingkan akun yang tidak pernah pakai ads.
Tiktok – banyak agency yang menggunakan multiple account untuk membantu brand viral, tetapi videonya saat ini (sejak 16 Oktober kalau tidak salah) yang dipost di banyak akun beda-beda juga videonya harus beda banget, kalau terlihat sama, bisa kena shadow ban.
karena per pertengahan Okt, tiktok mengeluarkan ketentuan baru soal video spamming.
Kebanyakan orang pakai views, engagement – tentu saja
Tapi karena saya backgroundnya SEO, saya pakai kenaikan search volume dari branded keyword di bulan tersebut.
Hal ini menandakan audience kita bukan hanya nonton video atau likes, tapi lebih jauh lagi, mereka melakukan pencarian di google.
Ini semacam micro conversion, semacam funnel yang menjelaskan apa yang terjadi sebelum customer melakukan pembelian (baik itu pembelian di online atau offline), dan search volume itu kan ada angka exactnya dan saya percaya action dari audience / target market untuk melakukan pencarian itu lebih berharga daripada views atau engagement, tapi tentu saja search volume baru bisa terjadi setelah views/engage.
Viral atau Tidak Viral – lalu apa ?
Berikutnya apa ? menunggu penjualan naik ? selain itu apa ?
Berikutnya tentu saja, Lihat berapa jumlah audience meta/ tiktok yang Anda generate dari virality tsb, misalnya :
- Orang yang menonton video di akun TikTok Anda (bisa dipilih berdasarkan durasi, misalnya 2 detik, 6 detik, atau 100% video)
- Orang yang mengunjungi profil TikTok Anda
- Orang yang mengikuti akun Anda
- Orang yang melakukan engagement (like, comment, share) pada konten Anda
Kan ada rule of 7 di mana, customer baru mau beli produk Anda jika sudah terpapar 7 kali. JIka ini pertama kalinya brand Anda dilihat, nah saatnya yang ke 2,3 kali :p tentu butuh budget.
ada lagi istilah “micro conversion” di mana definisi konversi bukan hanya sales saja, tapi diperluas jadi 1,2,3 tahap sebelum sales (mis. memasukkan data email utk dapat diskon). Jadi end goalnya belum tentu langsung sales (bagus dan aamin kalau langsung sales).
Rasa-rasanya sih viral tidak mungkin salah. tapi mungkin yang jadi bikin salah adalah sudah buat effort dan biaya besar supaya viral, tapi gak viral dan tidak tahu harus apa.
Lebih ngenes lagi, sudah tidak viral, brand anda atau keyword generic yang relate dengan brand Anda dicari di Google – website atau brand Anda tidak muncul di hasil pencarian Google pula.
Produk apa sih yang sebenarnya tidak wajib viral ?
Mungkin, produk yang customer journeynya tahapnya agak panjang antara view video dan purchase (mungkin), alias nunggu butuh lalu melakukan pencarian, semoga customer ingat brand Anda.
Contoh yang tidak wajib viral : “Barang yang dicari hanya jika butuh saja”
Komponen sepeda motor, jarum suntik, defiblirator (alat pacu jantung) – beberapa tahun lalu saya bantu ecommerce medis menaikkan omzet 25x lipat per bulan (sustain) tanpa pegang sosmed sama sekali. Karena ini adalah produk yang tidak butuh branding / awareness – walaupun branding/awareness tidak pernah dilakukan karena tidak ada budget. Tetapi yang penting adalah, saat orang merasa butuh dan melakukan pencarian, produknya ditemukan di hasil pencarian alias search engine (atau SEO social media – SEO apapun).
Contoh wajib viral : Whatever FMCG, kosmetik, produk2 yang orang kalau tidak butuh bisa gatel beli. Salah satu partisipan dari brand FMCG kopi yang banyak dijual di minimarket mengatakan, produk yang pesaingnya begitu banyak (seperti FMCG kopi) dan harus selalu diingatkan bahwa “brand ini ada” itu harus selalu ada KPI viral.
Produk yang dicari hanya jika butuh saja
Muncul pertanyaan, apakah studi kasus Primajasa diatas itu sebenarnya berguna ? karena muncul ditimeline saat orang sedang tidak mau keluar kota naik bis. Tentu saya tidak punya datanya apakah berguna atau tidak (omzet naik atau tidak). tapi kalau saya mau naik bis (“customer journey”) ke luar kota sih saya carinya di Tiket.com. Traveloka, jadi mungkin yang perlu dibandingkan effort marketingnya adalah jika dibandingkan dengan promo di paltform travel tsb, perbandingannya bagaimana ?
Viral atau Tidak Tergantung Fase Product ?
Salah satu diskusi yang terjadi adalah, product yang fasenya masih growth bisa lebih viral daripada product yang sudah mature. Viral juga sangat bagus utk produk yang ada di fase baru.
Other Things
- Viral yang OK definisinya macam-macam sekali : Dapat Brand recall, Message tersampaikan gak, Narik sales gak, Reach, Sales dianggap bonus (atau wajib? beda-beda kali ya tiap CEO)
- Salah satu peserta diskusi, Evelin, bilang bahwa 3 jenis yang buat viral adalah konten politik, porno, komedi, sangat jarang yang true viral Karena creativity of the brand, atau karena productnya, salah satunya adalah sepatu ON, yang populer walaupun tanpa marketing activity
- Yang sangat butuh viral adalah produk daily use yang marketnya sangat fragmented, jadi audience harus diremind terus
- Quality dan quantity nampaknya KPI yang perlu diseimbangkan
- Viral tidak harus di mass, bisa saja di 1 niche spesifik. Sepatu ON itu spesifik pelari.
- Apa lagi ? udah
